Fiksi

Rayu

Sungguh aku tak pandai menulis kata-kata manis berbalut rindu padamu

Walaupun sangat ingin aku ucapkan

Pekak telinga mendengar hati berkata begitu banyak cinta

Namun yang ku dengar hanya deru nafas menahan rasa

Bukanlah salahmu

Hanya saja, Tuhan menciptakan dirimu dari lebih banyak pesona dibanding yang lain

Rahayu

Desember 2017

Book Reviews, Non Fiksi

Biru pada Januari

IMG_20171113_072741_923Book Reviews

BIRU PADA JANUARI

Judul                           : Biru Pada Januari

Penulis                        : Aditia Yudis

Penyunting                : Yulliya

Proofreader               : Windy Ariestanty

Penerbit                     : Gagas Media

Jumlah halaman      :360

ISBN                             : 978-979-780-583-8

 

Blurb :

Akan kuberitahu kau satu hal

Yang paling kuinginkan saat ini ….

Waktu berhenti sehingga aku dan kau

Terbingkai dalam keabadian.

Aku tak ingin semua berlalu,

Seringkas embun meninggalkan pagi.

Simpan saja kata-kata bersalut madumu.

Aku tak butuh Rayu,

Aku hanya ingin bersamamu.

Selalu

 

Review :

Buku ini saya dapat dari salah seorang sepupu sebagai hadiah. Saat melihat covernya yang menurut saya agak dramatis- dua buah cincin jatuh di dalam sebuah air yang berwarna biru, saya berfikir bahwa novel ini mengangkat kisah perceraian. Agak lama novel ini nangkrak di rak dan saya agak ragu untuk membuka plastic dan membacanya, karna jujur saya tidak begitu tertarik dengan kisah rumah tangga dan perceraian. sampai akhirnya saya mulai membaca dan mengetahui kalau ini bukan kisah tentang rumah tangga dan perceraian, beberapa halaman saya lewati dan  menemukan sedikit typo serta kalimat yang menurut saya agak membuat  bingung, kalau itu tidak bisa disebut sebagai rancu. Terlepas dari beberapa kekurangan di awal, saya tetap penasaran dan melanjutkan membaca.

Sebenarnya, kisah pada novel ini adalah kisah yang biasa kita temui dibanyak novel bergenre Romance; cinta, rindu, ragu, selingkuh, LDR dan penyesalan. Selain itu saya menemukan banyak sekali kebetulan yang tidak masuk akal. Plotnya yang lambat juga sedikit membuat saya agak bosan. tapi pada akhirnya saya menyelesaikan novel ini dan menemukan fakta bahwa akhir dari kisah ini sedikit tragis dan membuat saya berfikir “mengapa harus berakhir seperti itu”, karna jujur saya adalah orang yang tidak terlalu suka dengan sad ending, tapi Aditia Yudis memilih untuk mengakhiri kisah Mayra dan Samudra dengan membuat tenggorokan saya  tercekat. 3,5 bintang untuk novel ini.

“Kamu gak akan bisa menyentuh langit…., itu hanya lapisan udarayang membiaskan cahaya. ketika kamu terbang tegak lurus dari permukaan bumi, kamu tak akan pernah sadar kapan kamu menembus langit. kamu gak pernah tahu….Langit biru itu hanya untuk matamu. kamu hanya bisa melihat, tanpa bisa berharap merasakannya.”

                              Halaman 49

 

 

Fiksi

Sepotong Hati

Sepotong hati yang pernah patah ini, tidak akan pernah menjadi utuh, bahkan jika kau memaksa untuk menyambungnya.

Jangan khawatir, kau tak perlu melakukan itu. Karena aku telah membiarkan patahannya terbuang, hingga ia tak mampu menyebarkan busuk di sisa potongan hati yang kini kau genggam.

Dan akan aku gunakan sisa patahannya untuk mencintaimu secara utuh, merindukanmu tanpa jeda dan memelukmu tanpa resah.

Fiksi, Uncategorized

Fiksi

MALAM

tips+foto+malam+hari

Bahwa malam tak pernah melepaskan ku begitu saja.
Dia selalu datang tanpa tangan kosong.
Telah berkali-kali aku hempaskan ia ke dinding kamarku, tapi malam seperti punya cara untuk tetap ada, hingga akhirnya aku harus berkata
“ sudahlah, tidurlah bersamaku, aku akan menemanimu sampai kau terlelap”

Aku tau malam hanya kesepian tanpa cahaya matahari.
Padahal berkali-kali aku sudah mengatakan bahwa ia tak kan bersua dengannya, tapi malam tak pernah percaya padaku dan ia terus saja menggangguku.

Apa maumu malam ?

Non Fiksi

BLOG BARU

Cukup lama saya berfikir untuk membuat blog baru karena beberapa alasan, salah satunya karna saya bosan. Saya memang sering begini, bosan dengan hal yang bahkan baru saja saya kenal. Tapi ada hal lain yang akhirnya  membuat saya membuat blog baru. Ya, kali ini saya ingin benar-benar mengisi blog saya, bukan hanya sekedar di buat dan memindahkan file lama  ke dalamnya. Entahlah, saya pun masih gamang tentang hal apa yang akan saya tuliskan nanti. Tapi, sudah ada beberapa hal yang  mungkin akan rutin saya lakukan untuk mengisi ‘teman’ baru saya ini, mungkin salah satunya akan saya isi dengan ulasan buku-buku yang sudah saya baca, itu satu-satunya hal normal yang ingin saya bagikan di sini, tapi mungkin saya akan menulis apapun yang saya fikirkan, yang saya rasakan atau yang orang lain rasakan mungkin. 

Saya menulis ini sambil mendengarkan  suara merdu Adinty, ‘ semenjak ada dirimu’, saya sedang tidak berbunga-bunga, saya juga sedang tidak sedang menggebu rindu, tapi saya suka liriknya, saya suka beatnya. Oh ya, mungkin saya juga akan membagikan lagu-lagu yang saya suka dan sering saya dengarkan di sini.

Itu saja.

OPC

#OPC

OPC MJ author

Tema : berbelanja

Keyword : hijau

Hari ini hujan turun sangat lebat, setelah berbulan-bulan Jakarta terasa kering. Aku bisa mencium bau tanah yang tersiram air, rasanya seperti mencium wangi kekasih yang lama tak datang, warna daun terasa semakin menghijau karnanya. Hujan hari ini semakin ku rasakan indah karna ada Haris di sampingku sekarang. Kami berencana untuk mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Ini adalah hal yang sangat aku sukai juga, berbelanja bahan makanan, kemudian memasaknya bersama. “Leo, mau masak apa hari ini sayang ?” Tanya Haris kemudian.